Medan Riot in Memoir

Saat membaca tulisan Ria tentang Mari Mendukung Gerakan Peaceful Indonesia, jadi mengingat-ingat kejadian lebih dari satu dekade silam, di Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Kerusuhan di Medan sudah terjadi jauh sebelum tragedi Mei 1997 di Jakarta.

Medan pada masa itu masih ‘primitif’. Kenakalan bersifat SARA sudah ‘umum’ bahkan oleh anak-anak kecil. Yang paling ditakutkan oleh anak seumur jagung seperti Saya saat itu adalah pemalakan. Masih ingat ketika itu Aku dan teman-teman memutuskan belajar berenang di sungai. Perjalanan ke sungai memakan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki, dan melewati rel kereta api yang sudah tidak aktif. Tentu saja orang tua tidak pernah tahu tentang hal ini. Kalau sampai itu terjadi, siap-siap saja dikurung dalam rumah, dan orang tua yang satu akan mulai mencibir anak yang lainnya, karena dianggap membawa pengaruh buruk terhadap anaknya. Semua sama saja, cenderung lebih suka menyalahkan orang lain.

Kesawan - Medan

Suatu hari Saya dan teman-teman asik berenang, kemudian datang beberapa orang mendekat dan duduk-duduk di sekitar sungai. Kita mulai takut-takut sendiri, tapi coba tetap santai. Toh kita pikir kita tidak mengganggu mereka. Sampai sadar mereka mendekat ke tempat barang-barang kita diletakkan, pakaian dan sandal. Kita memutuskan untuk kembali.

Sial sudah terjadi, sandal Saya hilang, juga celana Saya (kalau nggak salah ingat). Ini pasti ulah mereka. Saya kebingungan, ditambah mereka memalak kita., sampai akhirnya Saya menangis. Mereka tidak mengiba, tetapi berjanji akan ‘membantu mencarikan’ barang Saya kalau mereka diberi uang. Saya kemudian setuju. Dalam hitungan detik, barang-barang Saya sudah ‘ditemukan’, minus uang yang ada di dalamnya. Mungkin 500, Aku agak lupa.

Suatu hari tiba-tiba ada kabar yang dibawa burung ke lingkungan kita, yaitu adanya pembakaran kitab suci agama Islam di tempat sembahyang tradisi Tionghoa yang biasanya terletak di tiap ujung gang perumahan. Siapa yang membakar? Burung juga tidak tahu jawabannya. Tiba-tiba saja suasana mencekam. Isu adanya penyerbuan ke daerah kita mulai merebak. Ada yang yakin pasti terjadi, ada juga yang tenang-tenang saja. Termasuk anak kecil seperti Saya.

Sampai akhirnya kejadian itu benar-benar terjadi. Saat itu malam hari, Saya terbangun dari tidur karena mendengar pecahan kaca dari rumah Saya dan rumah tetangga Saya dari lemparan-lemparan batu, terus menerus. Makian segerombolan orang membawa isu SARA dan ancaman pembakaran perumahan. Sungguh menakutkan.

Saya mau mencari Papa Saya, Saya memberanikan keluar dari kamar, pelan-pelan. Saya melihat Papa Saya dari lorong rumah, dia sedang menunduk sambil mengintip ke luar dari balik pintu papan depan rumah, sambil sesekali merunduk setiap ada suara pecahan kaca yang keras. Pintu papan itu menjadi pembatas antara ruang tamu dan teras depan, dan masih dilapis pintu besi dibagian depannya. Papa melihat Saya, dengan berteriak tapi tanpa suara, berekspresi marah sambil memberi isyarat ‘mengusir’ kepada Saya, dengan maksud menyuruh Saya kembali masuk ke kamar. Saya ketakutan.

Keesokan paginya ramai warga berkumpul di gang rumah. Sebagai anak kecil, Saya dan teman-teman juga punya pembicaraan tersendiri, yaitu membahas jumlah kaca yang pecah dari tiap jendela rumah kita. Jendela rumah di sana semuanya model susun, dengan tiga kolom besar yang biasanya hampir selebar ruang tamu tiap rumah. Kita bercerita dengan hebohnya, kita melihat ke tiap rumah-rumah. Ada yang pecah 21, 28, 38, dan bahkan hampir semuanya habis. Maklum, tinggi pagar rata-rata rumah hanya setinggi tubuh orang dewasa. Kalau diingat-ingat bagian ini sungguh lucu.

Setelah itu hampir semua teman perempuan Saya langsung menghilang, termasuk beberapa ibu mereka. Mereka diungsikan sementara ke rumah saudaranya di daerah lain. Hal ini karena masih ada isu penyerbuan susulan, dan lebih jauh adalah akan adanya pembakaran. Pihak laki-laki dewasa mulai melakukan jaga malam, dan dibantu salah seorang warga yang juga (katanya) mafia dengan beking kuat dari tentara. Kali ini kita merasa cukup aman. Buktinya penyerbuan itu tidak terjadi lagi. Setidaknya saat Saya masih di sana, karena beberapa saat kemudian Saya akhirnya harus pergi ke pulau Jawa. Tidak ada kaitannya dengan kerusuhan, hanya masalah keluarga saja.

Bersambung…

References

Random Posts

Comments

2 Responses to “Medan Riot in Memoir”
  1. ria Says:

    waa seru!!! cepet lanjutin Fen!!! penasaraannnnn…..

  2. Piogrand Says:

    Aduh bingung juga mau lanjut ke mana.. :(

Leave a Reply

Creative Commons License Page Ranking Tool Valid CSS! Wordpress.org Firefox KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia blog-indonesia.com